sman24kabtangerang.sch.id – AS-Israel Serang Iran dalam operasi militer besar-besaran pada 28 Februari 2026 yang langsung mengguncang stabilitas global. Serangan udara tersebut menghancurkan berbagai fasilitas kepresidenan, situs militer, hingga kompleks kediaman Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.
Laporan resmi mengonfirmasi kematian Khamenei beserta puluhan pejabat tinggi Iran dalam peristiwa tersebut. Tragedi ini juga menelan korban jiwa ratusan anak sekolah setelah rudal mengenai sebuah sekolah putri di Iran. Hingga hari keempat konflik, Palang Merah Iran mencatat total korban tewas telah melampaui 700 orang.
Meskipun Iran membalas dengan menggempur pangkalan AS di Timur Tengah dan wilayah Israel, publik kini menyoroti sikap dua sekutu besar Teheran: China dan Rusia. Hingga saat ini, keduanya belum mengambil tindakan militer nyata untuk membantu Iran.
AS-Israel Serang Iran: Dampaknya dalam Dinamika Pertemuan Xi Jinping dan Donald Trump
Para analis menilai posisi China saat ini sangat dipengaruhi oleh agenda domestik dan diplomasi ekonomi. Peneliti dari lembaga think tank Chatham House, Ahmed Aboudouh, mengungkapkan bahwa Beijing sedang berupaya menjaga sikap lunak terhadap AS.
Penyebab utamanya adalah rencana pertemuan antara Presiden China Xi Jinping dan Presiden AS Donald Trump pada akhir bulan ini. China tampaknya memprioritaskan kepentingan nasional yang lebih mendesak daripada terlibat dalam perang di Timur Tengah.
Beberapa faktor yang menahan langkah China antara lain:
-
Konsesi Isu Taiwan: Beijing kemungkinan menukar dukungan politik untuk Iran dengan pelunakan sikap AS terkait isu kedaulatan Taiwan.
-
Kepentingan Perdagangan: China ingin mendapatkan keuntungan dalam negosiasi tarif dan perdagangan saat bertemu Trump.
-
Batas Kemitraan Strategis: Pakar dari firma Teneo, Gabriel Wildau, menyebut hubungan China-Iran hanyalah kemitraan strategis, bukan aliansi militer yang menjamin dukungan senjata.
AS-Israel Serang Iran dan Posisi Rusia yang Terjepit Perang Ukraina
Di sisi lain, Rusia yang biasanya vokal dalam menentang kebijakan AS di Timur Tengah, kini tampak lebih kalem. Meskipun Presiden Vladimir Putin menyebut pembunuhan Khamenei sebagai “pelanggaran jahat” terhadap hukum internasional, Moskow belum mengirimkan bantuan militer ke Teheran.
Matt Gerken, kepala ahli strategi geopolitik di BCA Research, berpendapat bahwa kekuatan militer Rusia telah terkikis akibat perang berkepanjangan di Ukraina. Kondisi ini membuat pengaruh Moskow di luar perbatasannya jauh berkurang.
Alasan melemahnya pengaruh Rusia di Timur Tengah:
-
Fokus Militer Terpecah: Militer Rusia saat ini sudah kewalahan menghadapi garis depan di Ukraina.
-
Tekanan Sanksi Barat: Perekonomian Rusia terus menderita akibat sanksi internasional, sehingga sulit mendanai keterlibatan di konflik baru.
-
Pengalihan Perhatian Dunia: Presiden Transversal Consulting, Ellen Wald, menyebut Putin justru “bersyukur” karena perhatian Donald Trump kini teralihkan dari Ukraina ke Iran.
Dampak Perang yang Meluas ke Teluk dan Eropa
Konflik ini tidak lagi terbatas pada wilayah Iran dan Israel saja. Serangan balasan Iran telah menyeret negara-negara tetangga dan pangkalan militer Eropa ke dalam pusaran kekerasan. Ledakan dilaporkan terjadi di Arab Saudi, Kuwait, Bahrain, Uni Emirat Arab, Qatar, hingga Irak.
Satu titik panas lainnya muncul di Siprus. Rudal menghantam pangkalan Inggris di wilayah tersebut tak lama setelah Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer, mengizinkan militer AS menggunakan fasilitas mereka untuk menyerang Iran.
Negara-negara Teluk kini berada dalam posisi siaga tinggi. Mereka menyatakan berhak membela diri dan memberikan indikasi akan melakukan serangan balasan terhadap Iran karena dianggap telah melanggar teritori kedaulatan mereka.
Posisi Terjepit Iran Tanpa Bantuan Militer Langsung
Meskipun China mengecam serangan AS-Israel sebagai “pelanggaran serius kedaulatan,” dukungan tersebut hanya sebatas retorika diplomatik. Tanpa dukungan materiil dari China atau intervensi langsung dari Rusia, Iran kini harus menghadapi kekuatan militer AS dan Israel sendirian di tengah isolasi internasional yang semakin ketat.
Situasi di lapangan menunjukkan bahwa aliansi global tidak selalu berarti dukungan militer otomatis. Kepentingan ekonomi dan keterbatasan kekuatan dalam negeri menjadi tembok penghalang bagi China dan Rusia untuk terjun lebih dalam ke krisis Timur Tengah yang semakin membara ini.













Leave a Reply