Lensa 24

Tajam Merekam, Inspiratif Mengabarkan

Bayang-Bayang Krisis Energi: Pakar Peringatkan Harga Minyak Bisa Meroket ke Level 130 Dolar AS

Pakar energi Unpad ungkap prediksi harga minyak dunia bisa melonjak ke 130 dolar AS

sman24kabtangerang.sch.idPrediksi harga minyak dunia kini menjadi perhatian serius bagi pelaku ekonomi global seiring memanasnya konfrontasi antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran. Pakar Energi dari Universitas Padjadjaran (Unpad), Yayan Satyakti, menyebut bahwa harga minyak mentah berpotensi terbang ke level 130 dolar AS per barel jika tensi militer terus meningkat.

Meskipun harga pasar sempat menunjukkan tren penurunan dalam beberapa hari terakhir, Yayan menilai kondisi tersebut hanya bersifat temporer. Langkah Amerika Serikat melepas pasokan minyak dalam jumlah besar memang berhasil menekan harga untuk sementara, namun ancaman nyata tetap mengintai di depan mata.

Faktor Geopolitik yang Memengaruhi Prediksi Harga Minyak Dunia

Yayan menjelaskan bahwa ketidakpastian di Timur Tengah masih menjadi penggerak utama volatilitas pasar. Harga minyak jenis Brent sempat menyentuh 118 dolar AS per barel pada 9 Maret, sebuah angka tertinggi sejak pertengahan 2022. Namun, harga kemudian terkoreksi ke level 80–85 dolar AS setelah menteri energi G7 membahas pelepasan cadangan minyak secara terkoordinasi.

Namun, penurunan ini terancam batal jika eskalasi militer kembali pecah. Berikut adalah beberapa poin krusial yang memperkuat prediksi harga minyak dunia akan kembali melonjak:

  • Rencana Pengiriman Pasukan Darat: Presiden AS Donald Trump kabarnya akan mengirim pasukan darat (ground troops) ke wilayah Iran.

  • Kerusakan Infrastruktur: Kehadiran pasukan darat akan menghentikan jaringan rantai pasok energi dalam waktu yang tidak terduga.

  • Sikap Tegas Iran: Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menegaskan tidak akan ada gencatan senjata sebelum pihak penyerang mendapat “pelajaran” setimpal.

Dampak Ambisi Amerika Serikat terhadap Prediksi Harga Minyak Dunia

Yayan menganalisis bahwa Amerika Serikat memiliki ambisi jangka panjang di balik serangan militer ini. Washington diduga berupaya menggeser dominasi pasar minyak Timur Tengah ke Amerika Serikat sebesar 20 persen. Ambisi ini serupa dengan pola yang terjadi pada kasus Irak dan Afghanistan di masa lalu.

Pengerahan pasukan darat menunjukkan bahwa AS berencana menduduki wilayah strategis dalam waktu lama agar investasi militer mereka memberikan keuntungan ekonomi. Analisis mengenai prediksi harga minyak dunia ini juga berkaitan erat dengan strategi AS berikut:

  • Efisiensi Rantai Pasok: AS ingin menekan harga minyak pada akhir 2026 agar biaya logistik dalam negeri mereka lebih murah.

  • Dominasi Pasar Baru: Serangan ke Venezuela pada awal 2026 menunjukkan pola AS yang ingin menguasai titik-titik cadangan energi dunia.

  • Pengaruh G7: Kelompok negara maju terus berupaya mengintervensi harga dengan menguras cadangan strategis mereka demi stabilitas pasar jangka pendek.

Ancaman Kelumpuhan Rantai Pasok Global

Intervensi militer yang berkepanjangan akan merusak fasilitas pengeboran dan jalur distribusi minyak di kawasan Teluk. Jika hal ini terjadi, pasar global akan kehilangan pasokan secara masif dalam waktu singkat. Kelangkaan ini yang nantinya memaksa harga menembus batas psikologis 130 dolar AS per barel.

Yayan menilai Amerika Serikat tidak ingin merugi dalam operasi militer ini. Oleh sebab itu, mereka kemungkinan akan bertahan di Iran lebih dari satu tahun demi mengamankan aset energi. Dampaknya, fluktuasi harga minyak akan terus menghantui ekonomi dunia sepanjang sisa tahun 2026.

Posisi Indonesia di Tengah Ketidakpastian Harga

Bagi Indonesia, lonjakan harga hingga 130 dolar AS tentu menjadi ancaman serius bagi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Sebagai negara importir minyak, kenaikan harga mentah dunia akan membengkakkan subsidi energi dalam negeri. Pemerintah perlu menyiapkan langkah antisipasi dini jika prediksi pahit ini benar-benar menjadi kenyataan.

Masyarakat internasional kini menunggu apakah jalur diplomasi masih memiliki ruang untuk meredam konflik. Jika Donald Trump benar-benar mengeksekusi pengiriman pasukan darat, maka era minyak mahal akan kembali melanda dunia dengan dampak inflasi yang sulit terkendali.

Kewaspadaan tinggi harus tetap terjaga karena volatilitas energi saat ini sangat bergantung pada satu perintah militer. Prediksi para pakar menjadi pengingat bahwa ketahanan energi nasional harus menjadi prioritas utama di tengah badai geopolitik global yang kian tidak menentu.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *